Sabtu, 24 Desember 2011

Nasihat Imam Hasan al-Bashri rahimahullaah




Berikut adalah nasihat yang disampaikan oleh Hasan Al Bashri rahimahullaah -dalam Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Wahai anak Adam, (masa) siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah terhadapnya. Karena sungguh, jika engkau berbuat baik kepadanya, niscaya dia akan pergi dengan memujimu. Dan apabila engkau berbuat buruk terhadapnya maka dia akan pergi dengan mencercamu, begitu pula dengan malammu.”
“Wahai anak Adam, injaklah bumi ini dengan kakimu. Sungguh, sekecil apapun dia, pasti bakal menguburmu. Sesungguhnya engkau itu senantiasa sedang mengurangi usiamu, semenjak engkau dilahirkan dari perut ibumu.”
“Wahai anak Adam, engkau dapati pagimu berada di antara dua waktu, yang keduanya tak mungkin meninggalkanmu, yakni bahayanya malam dan bahayanya siang. Sampai engkau mendatangi negeri akhirat, yang bisa jadi engkau datang ke al-jannah (surga) dan bisa jadi engkau ke an-nar (neraka). Maka siapakah yang lebih besar bahayanya daripada dirimu sendiri?”
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah (laksana) hari-hari yang setiap kali berlalu satu hari maka hilanglah pula sebagian dari dirimu.” [1]
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
“Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya, (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri karena Allah semata.”
“Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.”
“Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka dia pun berbisik: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan. Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar’i) yang dapat menyampaikanku kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi antara aku denganmu’.”
“Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: ‘Apa yang aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah’.”
“Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri mereka.”
“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”
“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.” [2]
[1] Mawa’izh lil Imam Hasan al Bashri h.35
[2] ibid h.39

SEJARAH KEHIDUPAN IMAM SYAFI’I RA




TEMPAT KELAHIRAN IMAM SYAFI’I

Nama asli dari imam syafi’I adalah muhammad bin idris, gelar beliau adalah abu abdillah.
Orang Arab kalau menuliskan nama biasanya mendahulukan gelar dari nama, sehingga berbunyi : Abu abdillah Muhammad Bin Idris. Beliau lahir di Gazza, bagian selatan dari palestina, pada tahun 150 H. pertengahan abad kedua Hijriah.
Ada ahli sejarah mengatakan bahwa beliau lahir di asqalan, tetapi kedua perkataan ini tidak berbeda karena gazza dahulunya adalah daerah asqalan.
Kampung halaman Imam Syafi’i Rhl. Bukan di gazza palestina, tetapi di mekkah (Hijaj). Dahulu orang tua beliau datang ke gazza untuk suatu keperluan, dan tidak lama setelah itu beliau lahir.
Ketika beliau masih kecil ayahnya meninggal di gazza, dan beliau menjadi anak yatim yang hanya di asuh oleh ibunya saja

SILSILAH IMAM SYAFI’I

Silsilah imam syafi’i adalah Muhammad, bin Idris, bin Abbas, bin Ustman, bin Syafi’, bin Saib, bin abu Yazid, bin Hasyim, bin Abdul Muthalib, bin Abdul Manaf, bin Qushai
Abdul manaf bin Qushai yang menjadi nenek ke 9 dari Imam Syafi’i Rhl, adalah Abdul manaf bin Qushai nenek yang ke 4 dari Nabi Muhammad SAW..
Nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW sebagai di maklumi adalah Muhammad bin Abdullah, bin Abdul Muthalib, bin Hasyim, bin Abdul Manaf, bin Qushai, bin Qilab, bin Marah, bin Ka’ab, bin luai, bin ghalib, bin Fihir, bin Malik, bin nadhar, bin kinanah, bin khuzaimah, bin mudrikah, bin ilyas, bin ma’ad, bin adnan, sampai kepada Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim Alaimashalatu wassalam…
Dari silsilah ini bahwa Imam Syafi’i senenek moyang dengan Nabi Muhammad SAW
Adapun dari pihak Ibu : Fathimah, binti Abdullah, bin hasan, bin husein, bin Ali bin Abi Thalib Rda.
Ibu Imam Syafi’i Rhl. Adalah cucu dari cucu Saidina Ali bin abi Thalib, Menantu, Sahabat Nabi dan khalifah ke IV yang terkenal..
Sepanjang sejarah di ketemukan bahwa saib bin abu Yazid, Nenek Imam syafi’i yang ke 5 adalah sahabat Nabi Muhammad SAW.
Jadi, baik di pandang dari segi keturunan darah, maupun di pandang dari keturunan ilmu maka Imam Syafi’i Rhl. Adalah karib kerabat dari nabi Muhammad SAW, gelaran “SYAFI’I“ dari Imam Syafi’i Rhl di ambil dari neneknya yang ke 4, yaitu Syafi’i bin Saib.

KEMBALI KE MEKAH ALMUKARRAMAH

Setelah usia Imam Syafi’i Rhl 2 Tahun, ia di bawa kembali ibunya ke mekah al Mukaramah yaitu kampung halaman beliau, dan tinggal di mekah sampai remaja sampai tahun 170 H dan setelah itu hijrah ke Madinah.
Selama beliau di mekah, Imam Syafi’i Rhl, berkecimpung dalam menuntut ilmu pengetahuan, khusus yang bertalian dengan agama Islam sesuai dengan kebiasaan anak-anak kaum muslimin ketika itu.
Sebagai di maklumi bahwa dalam sejarah pada abad I dan II tahun Hijriah, umat Islam boleh di katakan dalam masa ke emasan, sedang memuncak membungbung tinggi. Agama Islam sudah tersiar luas, ke barat sampai ke marokko dan spanyol, ke timur sudah sampai ke iran, ke afganistan, ke india selatan, ke indonesia dan ke tiongkok dan di afrika sudah hampir seluruh daerah.
Pada abad-abad itu yang berkuasa adalah Khalifah-khalifah Ar Rasyidin, Khalifah-khalifah bani ummayah dan khalifah-khalifah Bani ’Abbas yang terkenal bukan saja dalam keberanian tetapi juga dalam memperkembangkan ilmu pengetahuan.
Dalam masa khalifah-khalifah Harus ar Rasyid (170-193) dan al Makmun (198-218) terkenal sebagai masa memuncak tinggi kedudukan ilmu pengetahuan, dalam agama Islam yg sangat di patuhi orang ketika itu baik dalam al Quran maupun Hadist banyak sekali terdapat petunjuk-petunjuk yang menganjurkan dan mengerahkan rakyat supaya belajar segala macam ilmu pengetahuan, khususnya yang bertalian dengan Agama. Sesuai dengan ini maka Imam Syafi’i pada masa mudanya menghabiskan waktunya untuk menuntul ilmu pengetahuan. Markas-markas ilmu pengetahuan ketika itu adalah di mekkah, di madinah, di kufah (Irak), di Syam (Damsyik) dan di mesir. Oleh karena itu banyak pemuda kala itu yang mengidam-idamkan dapat tinggal di salah satu kota itu untuk berstudi, untuk mencari ilmu pengetahuan dari yang rendah sampai yang tinggi.
Imam Syafi’i Rhl belajar membaca Al Quran kepada Isma’il bin Qusthanthein. Dalam usia 9 Tahun Imam syafi’i telah menghafal ke tiga puluh Juznya dalam Al Quran di luar kepala

Catatan IMAM SYAFI’I dalam usia 9 Tahun :

Imam Syafi’I pada mulanya tertarik dengan prosa dan puisi, sya’ir-sya’ir dan sajak-sajak bahasa Arab Klasik, sehingga beliau sewaktu-waktu datang ke kabilah-kabilah Badui di padang Pasir, Qabilah Hudzel dll. Kadang-kadang beliau tinggal lama di kabilah-kabilah itu untuk mempelajari sastra Arab sehingga akhirnya Imam Syafi’I Rhl. Mahir dalam kesusastraan Arab Kuno, dan beliau menghafal di luar kepala Sya’ir dari Imrun-ul-Qois, Sya’ir Jarir dan lain-lain.
Hal ini kemudian ternyata ada baiknya karena dapat menolong beliau memahamkan Al Quran yang di turunkan dalam bahasa Arab yang fasih, yang asli dan yang murni.
Tersebutlah dalam sejarah yang di ceritakan oleh Mush’ab bin Abdillah az Zabiri, sebagai termaktub dalam kitab “Al Majmu” Bahwa Imam Syafi’I Rhl. Pada waktu mudanya hanya tertarik kepada puisi, sya’ir-sya’ir, dan sajak bahasa Arab Klasik, tetapi kemudian beliau terjun mempelajari hadist dan piqih.
Sebabnya ialah bahwa pada suatu hari Imam Syafi’I mengendarai unta, di belakangnya ada seorang lain, yaitu juru tulis bapak saya, kata mush’ab. Muhammad bin idris ketika itu berdendang dan bernyanyi mendengungkan sebuah sya’ir, juru tulis bapak saya mengetok dengan tongkatnya dari belakang dan menegurnya :“ Akh, pemuda seperti kamu menghabiskan kepemudaanya dengan berdendang dan bernyanyi, alangkah baiknya kalau waktu kepemudaanmu ini di pakai untuk mempelajari hadist dan fiqih!“
Berkata mush’ab bahwa teguran inilah sebab yang menggerakan hati Imam Syafi’I untuk mempelajari ilmu Hadist dan Fikih dan kemudian beliau datang belajar kepada Mufti Mekah, Muslim bin Khalid az Zanji dan Ulama Hadist Sofyan bin “Uwaniah. (Wafat 198 H)
Inilah di antara guru Imam Syafi’I Rhl. Dalam ilmu hadist dan Fiqih, selain dari pada itu Imam Syafi’I Rhl. Menceritakan tentang diri beliau, begini :
“ Saya pada mulanya mempelajari Ilmu Nahwu (Gramatika) dan Adab (Kesusastraan), kemudian setelah saya datang kepada Muslim bin Khalid, beliau bertanya, Hai Muahammad, kamu dari mana ?”
Jawabku : “Saya Orang sini, orang mekkah”.
“Dari kampung mana ?“
“Dari kampung Khaif“
“Dari Kabilah apa?“
“Dari kabilah Abdu Manaf“.
“Bakhin, bakhin (Senang, Senang sekali), Tuhan telah memuliakan kamu dunia akhirat, Alangkah baiknya kalau kecerdasan kamu itu di tumpahkan pada ilmu fiqih, inilah yang baik bagimu“.
Ucapan Imam Muslim bin Khalid inilah sebab yang menggerakan hati saya untuk mempelajari ilmu fiqih sedalam-dalamnnya, kata Imam Syafi’i Rhl

Apakah Ilmu Fiqih itu ?

Fiqih dalam bahasa Arab berarti pengertian, kefahaman dan dalam Islam berarti ilmu pengetahuan tentang hukum syariat Islam sesuai dengan dalilnya satu persatu. Orang yang ahli dalam ilmu Fiqih di sebut “Faqih“, jama’nya “Fuqaha“
Kalau ada seorang muslim yang sampai derajatnya kepada “Faqih“ maka itu menjadi satu bukti bahwa Allah SWT telah menetapkan dia menjadi orang baik-baik sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW :
Barang siapa yang di kehendaki Allah untuk menjadi orang baik-baik maka ia di faqihkan dalam agama“(HR. Bukhari dan Muslim), Lihat Fathul Bari Juz I, hal.173 dan Syarah Muslimin Juz VII, hal.128).
Arti “di-Faqihkan“ ialah di pintarkan. Di samping ilmu Fiqih ada lagi ilmu Ushul Fiqih.
Ilmu Ushul Fiqih ialah ilmu untuk mengetahui qaedah-qaedah (pokok-pokok atau norma-norma) yang mana dengan qaedah-qaedah itu dapat di istinbathkan (di keluarkan) hukum-hukum syari’at dari dalil-dalilnya. Imam Syafi’i Rhl. Orang yang mula-mula menciptakan ilmu ushul Fiqih ini.
Imam Syafi’I ketika usia mudanya di mekkah, mempelajari selain ilmu Fiqih juga ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, dan Ilmu Mustalah Hadist
Ilmu Tafsir ialah pengetahuan untuk hal ikhwal yang bertalian dengan kitab suci Al Quran, umpamanya sebab-sebab turunya ayat, arti dan ma’na ayat dalam bahasa Arab, maksud dan tujuan ayat itu yang sesuai dengan kehendak Allah menurunkan ayat, mentak’wilkan apa yang patut di ta’wilkan, hubungan antara satu ayat dengan yang lain, penafsiran ayat yang satu dengan ayat yang lain, mana yang nasekh dan mana yang mansukh, mana ayat yang di turunkan di mekah dan mana yang di turunkan di madinah dan lain-lain sebagainya. Imam syafi’I Rhl di waktu remajanya mempelajari ilmu tafsir ini.

Apakah ilmu Mustalah hadist ?

Ilmu Mustalah Hadist ialah ilmu tentang keadaan hadist, keadaan matan hadist, sanad hadist, orang yang membawa hadist itu dan lain-lain sebagainya yang bertalian dengan hadist
Orang-orang yang mengetahui ilmu Mustalah hadist akan mengetahui bahwa hadist itu sahih, hadist ini hasan (baik), hadist ini dha’if (lemah), hadist ini muqathi’ (putus si rawinya) dan lain-lain sebagainya.
Pendeknya Imam Syafi’I Rhl. Ketika di mekkah itu mempelajari ilmu fiqih, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih, ilmu mustalah hadist, ilmu tafsir, dan ilmu tajwid (pembacaan Al Quran ) atau bisa di sebut juga dengan tahsin dengan istilah yang populer sekarang.
Adalah kenyataan bahwa imam syafi’i dalam usia 9 tahun telah hafal Al Quran dan dalam usia 10 tahun sudah pula hafal di luar kepala kitab fiqih karangan Imam Malik yang bernama al Muwatha’. Dalam usia 18 tahun (dalam satu riwayat 15 Tahun) Imam Syafi’i Rhl. Telah di beri izin oleh gurunya Muslim bin Khalid az Zanzi untuk mengajar di mesjidil haram (mesjid Mekkah) sehingga mengagumkan orang-orang haji yang naik haji ke mekkah pada tahun-tahun itu.

Keprihatinan dan Rajinya IMAM SYAFI’I dalam belajar

Muhammad bin Idris adalah seorang pemuda yang sangat rajin dalam belajar, ia belajar dengan sungguh-sungguh dan tekun.
Sebagai di maklumi, beliau adalah seorang pelajar yang miskin, tidak mempunyai harta yang banyak untuk biaya belajar, beliau seorang anak yatim di mana belanjanya hanya di beri oleh ibunya yang dalam serba kekurangan pula. Tetapi imam syafi’i mempunyai keyakinan bahwa menuntut ilmu itu tidak tergantung kepada kekayaan, tetapi hanya kepada kemauan yang keras. Anak-anak miskin yang keras hati lebih banyak yang maju di banding dengan anak-anak yang kaya yang biasanya suka malas, berfoya-foya dan asyik dengan segala kenikmatan harta kekayaan orang tuanya.
Imam Syafi’i mengumpulkan tulang-tulang kambing atau tulang-tulang unta, yang biasanya banyak berserakan terutama setelah orang-orang mengerjakan haji di mina. Beliau mengumpulan pelepah-pelepah tamar yang kering, beliau mengumpulkan tembikar dan batu-batu yang dapat di tulis dan beliau mengumpulkan kertas-kertas yang di buang orang-orang kantor yang dapat di tulis lagi.
Imam Syafi’i Mendengar ucapan guru, dikte-dikte guru lalu menuliskan di atas bahan-bahan tadi sambil memperhatikan dan menghafalnya mana yang patut di hafal.
Pada suatu ketika penuh sesaklah kamar beliau dengan benda-benda tulang yang bertuliskan itu sehingga tidak dapat lagi beliau meluruskan kakinya ketika melepaskan lelah atau ketika tidur. Akhirnya beliau memutuskan agar semua tulisan itu di hafal saja di luar kepala dan tulang-tulang itu di keluarkan dari kamar supaya kamar tidurnya menjadi agak lapang, semua yang tertulis di hafalnya di luar kepala dan sesudah itu tulang-tulang di keluarkan dari kamarnya. Jadi Imam Syafi’i Rhl. Sejak kecil sudah terlatih dan terdidik dengan menghafal di luar kepala. “ilmu itu yang ada dalam dada, bukan yang ada dalam kertas“, kata peribahasa. Inilah nampaknya yang di amalkan oleh imam syafi’i Rhl. Maka dengan cara begini tidaklah heran kalau Imam Syafi’i Rhl. Dalam usia 9 Tahun Sudah menghafal Al Quran di luar kepala dan dalam usia 10 Tahun sudah menghafal di luar kepala kitab “Al Muwatha“, Karangan Imam Malik.
Begitulah Imam Syafi’i Rhl belajar sejak kecil sampai remaja , sampai dewasa berusia 20 Tahun, di mana beliau sesudah itu pindah dari mekkah Al Mukarramah ke Madinah Al Munawwarah

MENCARI ILMU KE MADINAH

Pada seperempat terakhir dari abad ke II H, kota madinah sedang gilang gemilang dalam ilmu pengetahuan, karena di sana banyak menetap Ulama-Ulama Tabi’in (Orang yang berjumpa dengan sahabat Nabi) dan Ulama-ulama Tabi’-Tabi’in (Orang berjumpa dengan orang yang berjumpa dengan sahabat Nabi ).
Di tengah Ulama-ulama yang banyak itu ada seorang yang menonjol yang menjadi bintangnya, yaitu seorang ulama yang terkenal dengan gelar julukan “Imam Darul Hijrah“ (Imam negeri tempat nabi berpindah), yaitu Imam Malik Bin Anas, pembangun mazhab maliki
Imam malik bin anas lahir tahun 93 H, yaitu 57 Tahun lebih tua dari Imam Syafi’i Rhl. Dan wafat pada tahun 179 H, 25 Tahun terdahulu dari Imam Syafi’i Rhl.
Sepanjang riwayat, Imam malik bin anas ini adalah seorang ulama yang bersungguh-sungguh mengumpulkan hadist-hadist Nabi Muhammad SAW. Beliau kumpulkan dan beliau hafal sebanyak 100.000 hadist dalam masa 40 Tahun. Ibnu Qudamah mengatakan bahwa imam malik bin anas adalah seorang “Huffazh“ (penghafal) hadist nomor satu pada zamanya dan tidak ada seorangpun yang menandingi beliau dalam soal penghafalan hadist itu, hadist-hadist yang 100.000 banyaknya itu beliau teliti satu persatu, beliau lihat si rawi yang membawa hadist-hadist, beliau cocokan dengan kitab suci Al Quran tentang arti tujuanya. Pada akhirnya hadist yang 100.000 itu beliau pilih sehingga yang tinggal hanya 5000 buah yang beliau anggap sangat sahihnya. Hadist yang 5000 inilah yang beliau kumpulkan dalam satu kitab yang berbentuk kitab fiqih sekarang, yang di beri nama “Al Muwatha“ artinya : “Yang di sepakati“ imam malik menamakan kitab itu dengan Al Muwatha karena kitab ini beliau perlihatkan kepada 70 Ulama-ulama Fiqih di madinah yang mana ke semua Ulama itu menyetujuinya .
Imam Syafi’i Rhl. Seorang yang mengagumi Imam Malik Bin Anas dan pula seorang yang mengasihi kitab Al Muwatha’ sehingga kitab itu di hafal di luar kepala pada ketika beliau masih berumur 10 Tahun. Sungguhpun kitab Al Muwatha sudah hafal di luar kepala, tetapi keinginan Imam Syafi’i Rhl. Untuk datang belajar kepada pengarangnya makin berkobar. Beliau ingin belajar langsung kepada Imam Malik secara berhadap-hadapan.
Maka beliau minta izin kepada gurunya Muslim bin khalid az Zanzi untuk pergi ke madinah menjumpai Imam Malik dan belajar pada beliau. Imam Syafi’i Rhl. Berangkat ke madinah pada Tahun 170 H. Dengan menumpang kendaraan unta, delapan hari delapan malam lamanya dengan membawa sepucuk surat dari gurunya Muslim bin Khalid yang di tujukan kepada Imam Malik bin Anas, selain itu Imam Syafi’i Rhl. Membawa surat pula dari Wali Mekkah (semacam gubernur) kepada Wali Madinah di mana wali mekkah minta agr kiranya Wali Kota Madinah memperkenalkan Imam Syafi’I Rhl. Kepada Imam Malik bin Anas.
Selama 8 hari 8 malam perjalanan antara mekkah dan madinah dengan unta, Imam Syafi’i Rhl. Membaca Al Quran sebanyak 16 kali tamat, dengan menamatkan sehatam siang dan sehatam malam, sesampainya di madinah beliau langsung menemui Imam Malik bersama-sama dengan wali kota madinah. Walikota madinah mempersilakan Imam Syafi’i berkata-kata : Mudah-mudahan tuan di karunia Allah“, kata imam Syafi’i Rhl.“Saya ini dari kaum muthalib, datang kemari dari mekah untuk menuntul ilmu dari tuan guru karena saya sudah lama mendengar nama tuan guru dan sudah lama mengetahui ilmu tuan guru, tetapi sekarang hendak mendengar dengan telinga sendiri pengajian-pengajian dari tuan guru“.sesudah Imam Malik memperhatikan Imam Syafi’i seketika, lalu beliau berkata, “Siapa namamu?“
Imam Syafi’i menjawab, “Muhammad Bin Idris“
Imam Malik menyambung, “Hai Muhammad, bertakwalah kepada Tuhan dan jauhi segala kedurhakaan. Saya melihat kepadamu akan terjadi apa-apa“.
“Baiklah,“ Kata Imam Malik.“Besok datanglah lagi dan akan saya suruh orang membacakan Al Muwatha’ kepadamu.“
Jawab Imam Syafi’i,“Tak perlu di carikan orang lain karena saya sudah menghafal di luar kepala kitab Al Muwatha’ itu.“
Imam Malik menjawab,“Kalau begitu keadaanya, cobalah baca.“
Imam Syafi’i Rhl. Imam Syafi’i lantas membaca kitab Al Muwatha’ yang di dengar oleh Imam Malik dengan seksama dan di sana sini membentulkan pembacaan-pembacaan Imam Syafi’i yang lancar itu.
Sesungguhnya Imam Malik sangat kagum melihat pemuda ini, karena masih dalam usia muda remaja sudah mendalam ilmunya, sudah mahir dalam arti ayat-ayat suci dan hadist-hadist Nabi dan kaidah-kaidah bahasa Arab.
Kemudian Imam Syafi’i Rhl tetap setiap hari mendatangi halaqah tempat Imam Malik mengajar di mesjid Madinah di mana beliau bersama-sama pelajar-pelajar lain yang terdiri dari Ulama-ulama Besar dari seluruh penjuru mendengar dan mencatat pengajian-pengajian yang di berikan oleh Imam Malik, seorang Ulama Besar dan Imam Mujtahid yang jarang tandinganya.
Akhirnya Imam Syafi’i mendapat kepercayaan besar dari Imam Malik dan lantas di undang menginap di rumahnya dan setiap hari datang ke mesjid bersama-sama sebagai pembantunya dalam mengajarkan kitab Al Muwatha’ dan lain-lain.
Imam Malik membacakan kitabnya kepada murid-murid dan sesudah itu Imam Syafi’i Rhl. (Yang ketika itu belum berpangkat Imam Mujtahid) membantu Imam Malik mendiktekan (meng-imlak-an) kitab karangan Imam Malik itu kepada sekalian mahasiswanya.
Ada sekitar satu tahun Imam Syafi’I tidak pernah jauh dari Imam Malik selalu dengan beliau sebagai murid dan sebagai asistenya, dengan cara seperti ini Imam Syafi’i mendapat kenalan banyak dari ulama-ulama yang datang ke madinah sesudah menunaikan Ibadah Haji dan datang belajar kepada Imam Malik.
Di antara orang-orang yang berkenalan dengan Imam Syafi’I Rhl ketika itu adalahAbdullah bin Al hakam dari Mesir (Kairo), yang kemudian di waktu Imam Syafi’I Rhl datang ke mesir beliau berkunjung ke rumah Abdullah bin Al Hakam ini. Juga Imam Syafi’I berkenalan dengan Ashab ibnul Qasim dan al Laits bin Sa’ad yaitu Ulama-ulama mesir yang berkunjung ke madinah yang telah mendengar Imam Syafi’i mendiktekan kitab Al Muwatha’.
Dan juga Imam Syafi’I Rhl berkenalan dengan Ulama-ulama Iraq yang berkunjung ke madinah sesudah menunaikan Ibadah Haji, banyak sekali di antara mereka yang datang mengunjungi halaqah Imam Malik dan mendengar Imlak dari Imam Syafi’I Rhl. Yang bijak itu.
Pada ketika itulah Muhammad Bin Idris mendengar bahwa di bagdad dan kuffah banyak sekali terdapat ulama-ulama murid dari Imam Abu Hanifah (Pembangun dari Mazhab Hanafi) , sehingga tertarik hati beliau hendak mengunjungi Iraq dan Mesir.

BERKUNJUNG KE BAGDAD DAN LAIN-LAIN

Setelah 2 tahun di madinah yakni dalam usia 22 Tahun, Imam Syafi’I Rhl berangkat ke Irak (Kuffah dan Bagdad), di mana beliau bermaksud selain menambah ilmu dalam soal-soal kehidupan suatu negara juga untuk menemui Ulama-Ulama Ahli Hadist atau Ilmu Fiqih yang bertebaran pada ketika itu di Irak dan Persia (Iran).
Sebagai di maklumi kota kuffah ketika itu adalah Ibu Kota tempat kedudukanKhalifah-khalifah Abu Ja’far al Mansur dan penggantinya Khalifah Harun Ar Rasyid yang terkenal, dan Bagdad adalah pusat ilmu pengetahuan, baik pengetahuan yang datang dari Barat atau yang datang dari Timur. Memang irak pada zaman Harun Ar Rasyid di anggap sebagai negeri tempat ilmu pengetahuan yang memancar ke seluruh penjuru dunia.
Perjalanan Imam Syafi’I dari madinah ke Irak kala itu mengendarai unta selama 24 hari dan Imam Syafi’I mendapat bekal dari gurunya Imam Malik sebanyak 50 dinar emas, cukup untuk belanja dan untuk menginap di situ beberapa waktu lamanya karena ongkos dari madinah ke irak kala itu hanya 4 dinar (emas).
Sampai di kuffah Imam Syafi’I menemui Ulama-ulama sahabat Al Marhum Imam Abu Hanifah, yaitu Guru Besar Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan di mana Imam Syafi’I Rhl seringkali bertukar pikiran dan beri memberi dengan beliau-beliau ini dalam soal-soal ilmu pengetahuan agama, dan dalam kesempatan ini Imam Syafi’I Rhl dapat mengetahui cara-cara Fiqih dalam mazhab Hanafi yang agak jauh berbeda dari cara-cara fiqih dalam Mazhab Maliki.
Imam Hanafi dan Imam Maliki hampir bersamaan dalam zamanya karena Imam Hanafi di lahirkan Tahun 81 H meninggal 150 H sedangkan Imam Malik di lahirkan Tahun 93 H dan meninggal 179 H, tetapi walaupun bersamaan zaman, namun cara masing-masing madzhab berbeda.
Madzhab Imam Maliki di madinah berpendapat bahwa kalau dalam Al Quran tidak terdapat hukum agama, maka hadist nabi-lah yang menjadi sandaran hukum, sekalipun hadist Nabi itu Mutawatir (Banyak yang merawikan) . Uhad (Satu jalan saja yang merawikan) Sahih atau Hasan.
Tetapi Mazhab Hanafi di iraq berpendapat bahwa kalau dalam Al Quran tidak terdapat hukum sesuatu yang terjadi maka yang boleh di jadikan sandaran hukum lagi hanya hadist yang mutawatir saja. Kalau tidak ada hadist yang mutawatir, langsung pindah pada “Ijtihad” yakni pendapat Imam Mujtahid.
Maka karena itu golongan Imam Maliki di namakan golongan “Ahli Hadist” dan golongan Imam Hanafi di namakan “Ahli Ra’yi” (Ahli Pendapat). Imam Syafi’I ketika itu dapat mendalami dan menganalisa cara-cara yang di pakai oleh kedua Imam itu.
Ketika itu Imam Syafi’I tidak lama di irak dan terus mengembara ke persi, sampai ke anadholi (Turki), terus ke Ramlah (Palestina) di mana beliau dalam perjalanan mencari dan menjumpai Ulama-ulama baik Tabi’in atau Tabi’-Tabi’in. pada kesempatan mengembara itu Imam Syafi’I mengetahui adat istiadat bangsa-bangsa selain bangsa Arab, karena Persia dan Anadholi (Turki) bukan bangsa Arab lagi. Hal ini nantinya menolong beliau dalam membangun fatwanya dalam Madzhab Syafi’I.

KEMBALI KE MADINAH

Sesudah 2 tahun mengembara meninjau antara bagdad, Persia, Turki dan Palestina, Imam Syafi’I Rhl kembali ke madinah dan kembali kepada guru besarnya yaitu Imam Maliki, Malik bin Anas, Imam Maliki bertambah kagum dengan ilmu muridnya Imam Syafi’I Rhl dan bahkan sudah ada pertanda dari Imam Maliki bahwa Ilmu Imam Syafi’I sudah melebihi kapasitas ilmunya.
Imam Maliki memberikan izin kepada Imam Syafi’I Rhl. Untuk memberi fatwa sendiri dalam ilmu fiqih, artinya tidak berfatwa atas dasar mazhab Imam Maliki dan juga tidak atas dasar mazhab Imam Hanafi, tetapi berfatwa atas dasar mazhab sendiri.
Imam Syafi’I tinggal bersama imam Maliki sampai Tahun 179 H yaitu sampai Imam Maliki Meninggal dunia, Imam Syafi’I Rhl belajar dengan Imam Maliki selama 7 Tahun yaitu pada tahun 170 H – 172 H dan dari tahun 174 H dan dari Tahun 174 H – 179 H

MENJADI MUFTI DI YAMAN

Setelah gurunya (Imam Malik) berpulang ke rahmatullah Imam Syafi’I Rhl pergi ke Yaman, Perjalanan ke Yaman ini sepanjang riwayat ialah bahwa Wali (semacam gubernur) yaman datang ke kota madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Ia mendengar dari orang Madinah tentang kecakapan, kepintaran ataupun kepandaian Imam Syafi’I Rhl, Wali negeri Yaman ini tertarik kepada Imam Syafi’I Rhl sehingga di usahakan berjumpa dengan beliau, kemudian terdapat kata sepakat antara keduanya bahwa Imam Syafi’I Rhl. Akan di bawa ke Yaman di angkat sebagai sekretaris Negara, sambil mengajar dan sebagai mufti. Mufti berfatwa tentang hukum-hukum agama.
Nama Muhammad bin Idris as Syafi’I menjadi masyhur di negeri Yaman dan sekitarnya, banyaklah orang mengagumi beliau karena kecakapan dan kepintaran beliau. Tetapi sungguhpun beliau sudah alim besar, sudah di segani segala pihak, namun beliau tidak segan-segan untuk belajar apabila melihat ada guru agama yang lebih pintar daripadanya, yang di kiranya dapat menambah ilmunya.
Di Yaman Imam Syafi’I belajar kepada Syeikh Yahya bin Husein, seorang ulama besar di kota Shan’a ketika itu, ketika di yaman ini pula Imam Syafi’I di angkat menjadi Wali daerah Najran, pekerjaan ini tidak lama di jabat karena beliau Imam Syafi’I Rhl lebih condong kepada ilmu daripada siasah.
Imam Syafi’I Rhl. Menikah di yaman dengan seorang puteri bernama Hamidah binti Nafi’I seorang puteri keturunan Saidina Utsman bin affan, Sahabat dan Khalifah Nabi yang ke III, Usia beliau ketika menikah kurang lebih 30 Tahun, dari pernikahan ini beliau mendapat 3 orang anak seorang laki-laki dan dua orang perempuan, anak beliau yang laki-laki bernama Muhammad bin Syafi’I kemudian menjadi ulama besar pula dan menjadi qadhi di Jazirah (wafat 240 H).
IMAM SYAFI’I RHL DI TANGKAP
Imam Syafi’I ketika di Yaman sudah banyak masyarakat yang mengenalnya dan beliau sudah tergolong kepada seorang ulama besar dan Imam Syafi’I Rahimahullah di angkat oleh Wali Negeri Yaman Menjadi “Katib Daulah” (Sekretaris Negara) di samping beliau menjadi Mufti dan guru agama di mesjid-mesjid, bertablig di mana-mana sehingga Imam Syafi’I dikenal dan masyhur namanya.
Telah menjadi kebiasaan di dunia yang fana ini bahwa setiap orang yang mendapat nikmat, ada saja orang yang dengki dan yang berniat jahat untuk menjatuhkanya, beliau di fitnah kepada khalifah Harun Ar Rasyid yang ketika itu berkedudukan di Bagdad (Iraq), di katakana bahwa Imam Syafi’I Rhl mengembangkan faham Syi’ah di Yaman dan masuk golongan Syi’ah yang sangat membenci Khalifah Harun Ar Rasyid, Khalifah Abbasiyah itu
Memang dalam berbagai literatur Sejarah Islam tercatat bagaimana permusuhan yang mendalam antara orang-orang syi’ah yang selalu menamakan diri dan kelompoknya pengikut Saidina Ali Rda atau biasanya dengan sebutan-sebutan “Pecinta Ahlul Bait” (Pecinta Keluarga Nabi) dengan orang-orang bani umayyah dan Bani Abbas, entah memang dari mana awal mulanya fitnah golongan atau kelompok ini terjadi hingga Islam sampai saat ini sering kita dengar istilah sunni dan syi’ah, sebagian literatur yang saya dapat fitnah itu bermula sejak ketika khalifah utsman berkuasa dengan pemberontakan yang di lakukan oleh pendeta Yahudi dari Yaman Abdullah Bin Saba yang pura-pura masuk Islam dan kemudian memberontak kepada khalifah ustman sehingga terbunuhnya beliau dan sebagian literatur lagi menyebutkan bahwa kelompok syi’ah muncul dari sikap ketidak puasaan para pengikut sayidina Ali Rda kepada Muawiyah bin abu Sopyan yang mengambil kekuasaan dari khalifah Ali Rda yang pada waktu itu sudah wafat terbunuh oleh kelompok Khawarij dan kekuasaan berada di tangan hasan, Kelompok Khawarij itu pada mulanya adalah para pengikut setia Khalifah Ali bin abi Thalib namun karena ketidakpuasan kelompok ini kepada sikap dan keputusan khalifah sehingga mereka membelot, begitupun dengan kelompok muawiyah bin abu sofyan mereka menuntut Khalifah ali ntuk menghukum dan mengqisas pembunuh khalifah Ustman bin Affan, begitu besar fitnah yang terjadi saat itu sehingga Istri Baginda Rasulullah SAW Aisyah Rda mengangkat senjata kepada khalifah ali yang kita kenal dengan perang unta,
Setelah Khalifah Ali wafat dan terbunuh oleh kelompok Khawarij kekuasaan berada di tangan putra saidina ali yaitu Hasan bin Ali bin Abi Thalib yaitu cucu dari Nabi Muhammad SAW dan Putra dari Siti Fatimah Rda oleh karena Hasan merasa lemah atau merasa bahwa tidaklah baik peperangan sesama umat Islam, maka beliau rela mengundurkan dari Jabatan Khalifah, asal muawiyah berjanji tidak akan menghina orang tuanya lagi di mimbar-mimbar sembahyang jum’at, Selanjutnya persoalan khalifah di serahkan kepada keputusan ummat Islam, perdamaian terjadi pada Tahun 41 Hijriah antara Muawiyah dgn Hasan bin Ali Bin Abi Thalib, dan setelah itu kekuasaan di pegang oleh Muawiyah sampai Tahun 60 H.
Setelah Muawiyah meninggal dunia maka khalifah di pusakakanya kepada putranya Yazid bin Mu’awiyah, Yazid berkuasa hanya sekitar 3 Tahun yaitu 60 – 63 H pada masa yazid inilah terjadi peperangan antara sekumpulan umat Islam yang di kepalai oleh Saidina Husein bin Ali bin Abi Thalib Rda melawan Tentara Yazid bin Mua’wiyah di padang Karbala (Sekarang di Iraq) di mana husein tewas dan di cencang-cencang oleh tentara Yazid dan dari sebagian sumber yang saya dapatkan juga ada yang berkata bahwa Yazid tidak menyuruh tentaranya untuk membunuh saidina husein yazid hanya menyuruh husein untuk berba’iat kepadanya namun karena memang situasi sudah memanas sehingga terjadilah hal-hal seperti itu, maka sejak kejadian itu Yazid tidak lama berkuasa hanya sekitar 3 tahun dan setelah itu pemerintahan di jalankan oleh penggantinya, sejak ini pulalah bergeloralah permusuhan yg mendalam antara golongan bani Umayah, yaitu mu’awiyah dan anak-anaknya dengan kaum syi’ah.
Selain permusuhan dengan bani Umayah kaum syi’ahpun tidak begitu damai dengan pemerintahan bani abbasiyah walaupun pada mulanya mereka juga ikut andil dalam meruntuhkan dinasti-dinasti ummayah yang pro Arab dan di gantikan dengan dinasti-dinasti abbasiyah yang lebih memihak kpd orang-orang non Arab, dan pada pertengahan abad ke IV H terjadilah perebutan kekuasaan di tunis (Afrika Utara) yang di lakukan oleh Kaum Fathimah melawan Raja-raja Abbasiyah, Rajanya yg pertama adalah Al Qayim bin Ubaidillah yg memerintah di tunis dan sekitarnya pada tahun 313 H.
28 Tahun kemudian kerajaan Fathimiyah (yang tiada lain adalah kerajaan Syi’ah) ini meluas dan sampai menguasai mesir pada Tahun 341 H, dengan sultanya yang bernama Al Muiz Li Dinillah, kekuasaan fathimiyah ini berjalan lama sampai 250 Tahun, yaitu sampai Tahun 564 H. pada ketika rajanya yang terakhir di ambil alih oleh Sulthan Salahudin al Ayubi panglima perang yang membebaskan Kota Yarusalem dari para tentara Salib, pada era Salahudin al Ayubi ini pula Lembaga Al Azhar yang awal pada Mula Lembaga Syi’ah bentukan Raja-raja Fathimiyah yang berfaham Syiah di ubah menjadi lembaga Sunni (ahlus sunnah).
Begitupu dengan fitnah yang menimpa Imam Syafi’I Rahimahullah ketika di yaman di bawah pemerintahan Khalifah Harun ar Rasyid beliau di fitnah mengembangkan faham Syi’ah yang akan merongrong kekuasaan khalifah sehingga beliau di tangkap bersama-sama kaum Syi’ah dan di golongkan kepada orang-orang syiah lalu di bawa ke bagdad untuk di adili oleh Khalifah Harun ar Rasyid dengan rantai-besi pada kaki dan tanganya.
Inilah Ujian Iman bagi Imam Syafi’I, memang orang-orang yang beriman selalu banyak mendapatkan ujian dan cobaan iman, banyak di antara golongan syiah yang di jatuhi hukuman mati oleh khalifah, tetapi ketika sampai pertanyaan kepada Imam Syafi’I Rhl maka terjadilah dialog (percakapan) antara khalifah dengan Imam Syafi’I Rhl.
Dengan merangkak karena kedua kakinya di belenggu, Imam Syafi’I masuk ke majlis Harun Ar Rasyid dan berkata, “ Assalamu’alaikum Wa barakatuh “ (Selamat atasmu dan berkatNya). Imam Syafi’I tidak mengucapkan Warahmatullahi (dan Rahmat Tuhan)
Khalifah Harun Ar Rasyid menjawab, “Alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wabarakatuh” (Selamat atasmu, Rahmat Tuhan dan berkatNya).Harun Ar Rasyid Agak heran melihat ketenangan Imam Syafi’I Rhl. Karena tidak gelisah sedikitpun, padahal kawan-kawanya yang di tangkap sudah di jatuhi hukuman mati.Khalifah harun Ar Rasyid bertanya, “ Kenapa kamu berbicara dalam siding ini tanpa izin saya sehingga saya terpaksa menjawabnya?” (Sebagaimana kita ketahui bahwa mengucapkan salam hukumnya sunnat sedangkan menjawabnya hukumnya adalah wajib )”
Imam Syafii Membacakan Firman Allah :
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman yang beramal shaleh, bahwa ia akan menjadikan mereka khalifah di bumi sebagaimana ia telah jadikan khalifah-khalifah yang sebelum mereka dan ia akan tetapkan bagi mereka agama yang ia ridhai untuk mereka. Dan ia akan mengganti ketakutan dengan keamanan. Mereka menyembahKu dan tidak mempersekutukan aku sedikitpun” (An Nur : 55)
Lalu Iman Syafi’I meneruskan ucapanya :
“Tuhan apabila berjanji, menepati janjinya dan kini Dia telah mengangkat Tuanku menjadi seorang khalifah di bumiNya yang luas. Tuanku telah memberikan keamanan kepada saya sesudah saya dalam ketakutan, karena Tuanku menjawab salam saya dengan ucapan Warahmatullahi, (Dan Rahmat Tuhan untuk saya). Dengan begitu Tuanku telah memberikan rahmat Tuhan kepada saya dengan kemurahan hati”
Khalifah Harun Ar Rasyid terdengar hatinya mendengar ucapan yang lantang dan fasih dari Imam Syafi’I yang kelihatanya tak sedikit juga takut dan gentar, Lantas khalifah berkata, “Bukankah engkau yang mengepalai komplotan pemberontak untuk menentangku, bukankah engkau bersekongkol dengan Abdullah bin Hasan untuk menentang aku, bukankah engkau orang yang sudah terang salahnya, bagaimana, bagaimana ?
Imam Syafi’I menjawab,
“Saya akan menerangkan pula isi dada saya sebaik-baiknya untuk mencari keadilan dan kebenaran, tapi dapatkah orang melahirkan perasaanya dengan seksama kalau kaki dan tanganya di rantai dengan besi berat ini ? saya minta agar rantai kaki dan tangan saya di buka dan memperkenankan duduk sewajarnya, dan puji-pujian hanya kepada Allah yang kaya.”
Khalifah Harun Ar Rasyid terbuka hatinya dan memerintahkan ketika itu juga kepada petugasnya untuk membuka rantai-rantai yang melingkari kaki dan tangan Imam Syafi’I Rhl, Imam Syafi’I berkata Allah SWT berfirman :
Hai Orang-orang yang beriman, kalau datang kepadamu orang-orang fasiq (jahat) membawa berita, periksalah dengan seksama supaya kamu jangan sampai mencelakakan orang tanpa di ketahui, kemudian kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Al Hujurat : 6)
“Saya berlindung kepada Allah, bahwa saya adalah seorang laki-laki yang di sampaikan kepada Tuan khalifah, bohong sekali orang yang menyampaikan kepada khalifah, saya mempunyai dua pertalian dengan khalifah, yaitu sama-sama beragama Islam dan sama-sama satu keturunan, khalifah adalah seorang yang harus berpegang kepada kitabullah, khalifah adalah paman Rasulullah yang harus melindungi agamanya.”
Mendengar ucapan-ucapan Imam Syafi’I yang di ucapkan dengan lancar ini, khalifah Harun Ar Rasyid tiba-tiba menjadi gembira, Lalu berkata. “ Tenanglah, tenangkanlah pikiranmu, saya menghargai ilmumu dan juga menghargai pertalian darah kita.”
Lalu khalifah berkata lagi, “bagaimana keadaan ilmu kamu dengan kitabullah ‘azza wajalla, di sanalah kita mulai bicara.”
Imam Syafi’I Rhl menjawab, “Kitab suci yang mana Tuan Khalifah tanyakan, karena kitab suci yang di turunkan banyak sekali.”
Khalifah menjawab, “baiklah, saya bertanya tentang kitab suci yang di turunkan kepada anak paman saya, Muhammad Rasulullah SAW.”
Imam Syafi’I Rhl menjawab, “Ilmu yang terkandung dalam Al Quran itu banyak sekali, yang manakah yang khalifah tanyakan? Ada ilmu ayat-ayat mutasyabih dan ayat muhkamat, Ada ilmu ayat-ayat Taqdim dan Tak’hir, ada ilmu tentang Nasekh dan Mansukh, ada ilmu ini dan ada ilmu itu.”
Kemudian khalifah Harun Ar Rasyid terpesona dan lantas menukar haluan, bukan lagi bertanya soal-soal agama tetapi berpindah kepada soal-soal ilmu falak, ilmu kedokteran, Ilmu firasat dan lain-lain yang kesemuanya di jawab oleh Imam Syafi’I Rhl dengan sangat memuaskan Khalifah Harun ar Rasyid, kemudian Khalifah berkata, “datanglah engkau sewaktu-waktu untuk mengajar saya”! dengan begitu bebaslah Imam Syafi’I RHL dari tuduhan, dan kecewalah tukang-tukan fitnah yang memfitnah beliau. Inilah kedatangan Imam Syafi’I Rhl yang kedua kali ke Iraq (Kufah atau Bagdad) yang terjadi pada tahun 184 H yakni dalam Usia 34 Tahun.

KEMBALI KE MEKKAH (HIJAZ)

Tidak lama setelah beliau bebas maka Imam Syafi’I Rhl kembali ke kampung asalnya yaitu Mekkah Al Muqaramah, sesudah di tinggalkan lebih kurang 11 Tahun. Ia di sambut oleh Ulama dan rakyat mekkah karena kemasyuranya. Sudah lama beliau di mekkah masih mendapat sambutan akibat banyaknya orang haji yang pulang baik antara madinah dan mekkah dan antara mekkah dan kuffah (Iraq).
Beliau membuat rumah tempat tinggal di luar kota mekkah di suatu tempat yang memungkinkan dapat di datangi oleh pelajar-pelajar yang menuntut ilmu kepada beliau. Lebih kurang selama 17 Tahun beliau di mekkah menaburkan ilmu-ilmu agama kepada kaum muslimin yang setiap tahun dating ke mekkah untuk ibadah haji, karena itu nama Imam Syafi’I Rhl Masyhur ke seluruh dunia Islam karena setiap orang haji yang datang ke mekkah pulang ke kampungnya membawa kabar tentang ke’aliman Imam Syafi’I tetapi pada ketika itu beliau masih merasa belum sampai kepada derajat Imam Mujtahid Muthlak (Mujtahid Penuh) sehingga fatwa-fatwa beliau adalah berdasarkan fatwa guru-gurunya yang di dapatkan di mekkah, madinah dan Iraq.

KE IRAQ YANG KETIGA KALI

Di mekkah sudah di dengar kabar wafatnya khalifah Harun Ar Rasyid dan telah di gantikan oleh khalifah Al Amin dan sesudah itu oleh al Ma’mun. begitu juga telah meninggal guru-guru Imam Syafi’I Rhl, di Iraq, yaitu abu Yusuf pada Tahun 182 H. dan Muhammad bin Hasan pada Tahun 188 H, hati Imam Syafi’I tergerak kembali hendak datang ke bagdad, Ibu Kota dan Pusat Kerajaan Ummat Islam ketika itu, karena di situ duduknya Khalifah, Amirul Mu’minin. Beliau tidak lama di Iraq pada kali itu, tetapi pada kesempatan ini beliau membuat sejarah, yaitu membentuk madzhab tersendiri yang kemudian di namakan “MADZHAB SYAFI’I”

MADZHAB SYAFI’I YANG PERTAMA

Abu Abdillah Muhammad bin Idris as Syafi’I ini setelah ilmunya tinggi dan fahamnya begitu dalam dan tajam, timbullah inspirasinya untuk berfatwa sendiri mengeluarkan hokum-hukum dari Al Quran dan Hadist sesuai dengan “ijtihad”nya sendiri, terlepas dari fatwa-fatwa gurunya Imam Maliki dan Ulama-ulama Hanafidi Iraq, hal ini terjadi pada tahun 198 H, yaitu sesudah usia beliau 48 tahun dan sesudah melalui masa belajar lebih kurang 40 Tahun, Imam Syafi’I telah menghafal Al Quran dan berpuluh ribu hadist dan juga telah mendalami Tafsir dari ayat suci dan makna hadist-hadist serta pendapat ulama yang terdahulu, beliau berfatwa dengan lisan menurut ijtihadnya (pendapat) sendiri dan juga mengarangkan kitab-kitab yang berisikan pendapat-pendapatnya itu.
Mula-mula di Iraq Imam Syafi’I mengarang kitab “Ar Risalah”, kitab Ushul Piqih yang pertama di dunia, yakni suatu ilmu yang di jadikan pedoman dalam menggali hukum-hukum piqih dari kitab suci Al Quran dan dari Hadist Nabi SAW. Perlu ketahui bahwa sekalian fatwa Imam Syafi’I baik dengan lisan ataupun tulisan pada ketika Ima Syafi’I di Iraq ini di namakan “AL Qaulul Qadim” (Fatwa Lama)sedang fatwa-fatwa yang di keluarkan sesudah beliau pindah ke mesir di namakan“Al Qaulul Jadid” (Fatwa baru), barang siapa yang mempelajari kitab-kitab Imam Syafi’I Rhl atau kitab-kitab Syafi’iyah dewasa ini, akan berjumpa dengan tulisan-tulisan al- Qaulul Qadim dan al-Qaulul Jadid itu.

PINDAH KE MESIR
Pada bulan syawal tahun 198 H. itu juga, Imam Syafi’I pindah ke mesir, kebetulan saja Khalifah al Ma’mun mengangkat abbas bin Musa menjadi Wali (Gubernur) Mesir dan mengirimnya ke mesir. Imam Syafi’I menompang dalam kafilah Wali Mesir itu, karena Imam Syafi’I Rhl. Adalah salah seorang ulama yang di hormati, bukan saja oleh rakyat Iraq tetapi juga oleh Khalifah Ma’mun sendiri.
Ketika Imam Syafi’I akan berangkat dari Iraq ke mesir, banyaklah datang sahabat-sahabatnya untuk mengucapkan selamat jalan, di antaranya adalah murid Imam Syafi’I yang di kenal dengan nama Ahmad bin Hanbal (Pembangun Madzhab Hanbali)
Pada ketika Imam Syafi’I bersalaman dengan Ahmad bin Hanbal, beliau membaca sebuah sya’ir seperti ini :
Saya rindu pergi ke mesir….
Untuk melihat sungai dan pasir….
Untuk kebesaran atau kekayaan….
Ataukah ini makam pekuburan….
Wallahu’alam apakah makna dari sya’ir beliau ini apakah memang mungkin saja imam syafi’I sudah merasa bahwa ia akan wafat dan bermakam buat selama-lamanya di mesir. Abbas bin Musa, gubernur mesir meminta agar Imam Syafi’I menginap di rumahnya, tetapi Imam Syafi’I Rhl. Menolak karena ia ingin tinggal dengan seorang Ulama Besar, namanya Abdullah bin al Hakam seorang Ulama yang pernah menjadi muridnya di Madinah pada ketika Imam Syafi’I mendiktekan kitab Al Muwatha’ atas nama Imam Maliki. Beliau tinggal di rumah Abdullah bin al Hakam sampai tahun 204 H.

IMAM SYAFI’I SUKA MENGEMBARA TERUTAMA UNTUK MENCARI ILMU PENGETAHUAN.

Dari riwayat Imam Syafi’I Rahimahullah ternyata bahwa beliau adalah seorang yang suka mengembara, pindah dari satu negeri ke negeri lain, terutama dalam hal mencari ilmu pengetahuan. Beliau lahir di gazza, pergi ke mekkah, pindah ke madinah, pindah ke yaman, pindah lagi ke bagdad sampai ke syam pindah ke mekkah, pindah lagi ke bagdad dan akhirnya pindah lagi ke mesir, wafat dan bermakam di mesir.
Imam Syafi’I Rhl. Bukan saja mempraktekan pindah-pindah tempat itu, tetapi juga beliau menganjurkan, kiranya rakyat mengembirakan pengembaraan dan perjalanan keliling, khususnya dalam mencari ilmu pengetahuan.
Imam Syafi’I pernah berkata dalam sebuah sya’ir :
  • Adalah tidak enak bagi orang cerdik pandai untuk tinggal tetap di suatu tempat, oleh karena itu tinggalkanlah tanah air dan mengembaralah!
  • Musafirlah ! Engkau akan mendapat sahabat-sahabat pengganti sahabat-sahabat yang di tinggalkan.
  • Bekerja keraslah, karena kelezatan hidup adalah dalam bekerja keras.
  • Saya berpendapat bahwa air kalau tetap di suatu tempat, ia akan busuk, kalau ia mengalir barulah ia bersih, dan kalau tidak mengalir akan menjadi kotor.
  • Singa kalau tidak keluar dari sarangnya, ia tak akan dapat makan.
  • Anak panah kalau tak meluncur dari busurnya, ia tak kan mengena.
  • Matahari pun kalau tetap niscaya seluruh manusia akan marah kepadanya.
  • Tibir (bahan baku emas) adalah seperti tanah saja ketika ia masih tergeletak di tempatnya.
  • Kayu harum pada ketika di rimba, sama saja dengan kayu yang lain.
  • Kalau yang ini (kayu harum) keluar dari rimba, sukar sekali mendapatkanya, dan itu (tabir) kalau keluar dari tempat sudah berharga seperti emas.
MENINGGAL DUNIA DALAM USIA 54 TAHUN.

Setelah 6 tahun tinggal di mesir mengembangkan madzhabnya dengan lisan dan tulisan dan sesudah mengarangkan kitab Ar Risalah (dalam Ushul Piqih) dan sesudah mengarangkan kitab-kitab beliau yang banyak sekali, maka beliau meninggal dunia pulang kerahmatullah dalam usia 54 Tahun.
Berkata Rabi’ bin Sulaiman (Murid Imam Syafi’i), “Imam Syafi’I Rhl. Berpulang ke rahmatullah sesudah sembahyang magrib, petang kamis malam jum’at, akhir dari bulan rajab dan kami makamkan beliau pada hari jum’at. Sorenya kami lihat hilal bulan sya’ban 204 H” atau bertepatan dengan 28 Juni 819 M raja mesir ketika itu turut menyembayangkan jenazah beliau.
Demikianlah sebuah catatan kecil yang bisa ana buat.. semoga dari sedikit catatan ini bisa bermanfaat.. Amin.. Insya Allah ntuk note selanjutnya ana akan mencoba mengumpulkan berbagai literatur dan daftar nama kitab-kitab yang di karang oleh Imam Syafi’i Rahimahullah..

Kamis, 22 Desember 2011

SYAIR RABIATUL ADAWIYAH




Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu



Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu



Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip



Manusia terlena dalam buai tidur lelap



Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup



Tuhanku, demikian malam pun berlalu



Dan inilah siang datang menjelang



Aku menjadi resah gelisah



Apakah persembahan malamku Kau Terima



Hingga aku berhak mereguk bahagia



Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,



Demi kemahakuasaan-Mu



Inilah yang akan selalu ku lakukan



Selama Kau Beri aku kehidupan



Demi kemanusiaan-Mu,



Andai Kau Usir aku dari pintuMu



Aku tak akan pergi berlalu


Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

Kata Bijak - Kata Cinta. ( Mahabbah - Rabiatul Adawiyah / Sufi )



Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”


Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.


Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.


Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.


Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.


Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.


Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.


Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.


Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka


Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.


Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.


Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.


Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.


Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !


Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.


Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka


Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.


Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya


Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.


Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.


Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.


Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Muhasabah Cintaku


Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu


Edcoustik